Peningkatan Kemampuan Mengarang Anak Tunarungu Melalui Metode Material Reflektif

Posted by AllSoft Senin, 27 Desember 2010 0 komentar
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mengarang adalah salah satu kompetensi yang harus dikuasai siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dalam mengarang siswa dapat mengungkapkan ide, perasaan, pendapat dan pengalamannya. Agar siswa dapat mengarang dengan baik diperlukan penguasaan bahasa yang meliputi penguasaan kosa kata, tata bahasa baik morfologi, sintaksis maupun semantic dan cara penulisannya. 

Bagi anak yang tidak mengalami kendala atau hambatan dalam berbahasa dan berkomunikasi hal ini tidak menjadi masalah. Tetapi tidak demikian bagi anak tunarungu. Akibat dari ketunarunguannya maka akan timbul permasalahan antara lain masalah bahasa dan komunikasi yang selanjutnya akan mempengaruhi perkembangan kognitif dan intelektual, yaitu akan menjadi miskin dalam bahasa karena mengalami hambatan dalam proses pemerolehan bahasa. 

Keterbatasan pendengaran dan keterbatasan bahasa menjadi penyebab anak tunarungu mengalami permasalahan dalam mengarang bila mereka tidak mendapat bimbingan dan dukungan dari pendidikan di sekolah, dalam keluarga atau lingkungannya. 

Keluarga dan lingkungan yang jarang mengajak anak untuk bercakap, membiarkan anak asik bermain sendiri dan tidak memberikan bahasa kepada anak, apalagi bila di sekolah pun potensi anak tidak digali secara optimal. 

Perbendaharaan kata anak masih terbatas, makna kata dalam ungkapan anak sering kurang tepat penggunaannya dan susunan kalimat masih terbolak balik. Kalimat satu dengan kalimat berikutnya kurang berkaitan dan tidak runtut. Dalam penulisan pun masih mengabaikan ejaan yang disempurnakan. 

Kondisi ini tentunya sangat memprihatinkan, walaupun di SDLB Tunarungu XXX sudah melaksanakan pembelajaran dengan metode maternal reflektif namun hasilnya belum memuaskan. Menurut pengamatan dan pengalaman penulis, kendalanya adalah guru kurang menggali lebih dalam ungkapan-ungkapan anak dalam percakapan, kurang maksimalnya pemanfaatan gambar yang disajikan guru, guru cepat puas dengan ungkapan anak padahal ungkapan anak belum sempurna baik ucapannya maupun susunan kalimatnya serta dalam pelaksanaan pembelajaran mengarang ada tahapan-tahapan yang tidak dilalui atau terlewatkan. Untuk itu penulis ingin berupaya meningkatkan kemampuan mengarang anak tunarungu di SDLB Tunarungu XXX melalui Metode Maternal Reflektif.

B. Indentifikasi Area dan Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diidentifikasi area dan fokus penelitian sebagai berikut :
1. Siswa belum mampu mengarang dengan menggunakan kata-kata yang tepat.
2. Siswa belum mampu mengarang dengan tata bahasa yang baik dan benar.


C. Pembatasan Fokus Penelitian
Peneliti membatasi focus penelitian yaitu pada “Pelaksanaan Pembelajaran Mengarang Anak Kelas IV di SDLB Tunarungu XXX dengan Metode Maternal Reflektif”.

D. Perumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan fokus penelitian pada penelitian tindakan ini, pertanyaan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut :
- Apakah Metode Maternal Reflektif dapat meningkatkan kemampuan mengarang anak tunarungu Kelas IV di SDLB Tunarungu XXX?

E. Manfaat Hasil Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Manfaat untuk anak tunarungu
Meningkatkan kemampuan mengarang anak tunarungu
2. Manfaat untuk guru
Memberikan masukkan kepada guru tentang cara yang efektif dalam memproses pembelajaran mengarang.
3. Manfaat untuk sekolah
Sekolah dapat memberikan pelayanan yang optimal bagi siswa tunarungu.

Download Skripsi : Peningkatan Kemampuan Mengarang Anak Tunarungu Melalui Metode Material Reflektif DisiniSoft

0 komentar:

Poskan Komentar