Model Pencegahan dan Penyembuhan Patologi Sosial Berbasis Nilai

Posted by AllSoft Rabu, 18 Agustus 2010 0 komentar
BAB I


PENDAHULUAN



A. LATAR BELAKANG MASALAH

Kebutuhan akan informasi yang jelas, arah hidup yang bersih, merupakan kebutuhan bersama baik pemerintah maupun masyarakat. Disamping itu beban psikologis yang di tanggung manusia pasca modern Timbul bukan karena teknologi komunikasi, melainkan karena kecepatan perubahan yang di timbulkannya. Salah satu diantara beban itu ialah berkurangnya kemampuan manusia untuk memahami dan menguasai lingkungannya. Para psikolog sepakat bahwa salah satu ciri penyakit adaptasi pasca modern ialah aliensi manusia di pisahkan dari pengalaman manusiawinya.[1]



Dengan informasi yang jelas membantu memilah dan memilih dalam beradaptasi karena kecepatan perubahan yang di timbulkan dari kemajuan teknologi mekanisasi urbanisasi dan industri membawa dampak gang berbeda, norma yang baru belum tertanam yang lama mulai goyah Salah satu penegak pi;ar masyarakat adalah dai.




Untuk itu apa yang dikemukakan Jalaludin Rahmat (2004), para da’i diimbau berfikir Global bertindak lokal.[2] Dalam hal ini belajar mencoba mengangkat materi patologi Sosial yang hematnya mempunyai tiga ciri yakni aktual, faktual dan relevan dengan kegiatan dakwah. Karena berdakwah mengajak “ amar ma’ruf dan nahi munkar”.


Kemudian menurut Anton Tabah Pekat “Penyakit-penyakit Masyarakat” sulit di berantas dimana penyakit-penyakit anti Protistusi, perjudian dan narkoba ( MAPPAN ) yang mengadakan seminar sehari di Bogor selasa 25 Februari 2005, saat presentasi “molimo” singkatan dari minum, madon, madat dan maling.[3] Materi ini dalam dunia perguruan disebut Patologi Sosial.



Penyakit masyarakat yang secara etimologi berasal dari kata pathos bahasa yunani yang berarti penderitaan. Logos ilmu pemgeahuan. Dalam hal ini ada dua pengertian yaitu patologi sebagai ilmu dan kondsi masyarakat yang sakit.



Diawal abad 21 para sosiolog mendifinisikan ;”Tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas local, pola kesederhanaan, moral dan hak milik, solidarias kekeluarggan, hidup rukun bertetangga, kebaikkan dan hukum formal.”[4] Penderitaan yang merugikan manusia baik dari segi usia maupun ekonomi. Oleh sebab itu perlu dijahui. Karena tingah laku adalah proses bukan barang cetakan, maska diperlukan proses dalam pembentukan kesadaran.



Pada tahun 1956 Sumantri Praptokusuma mantan Sekretaris Jenderal Kementrian Sosial RI mengimbau agar ada Fakultas Patologi Sosial di bawah naungan Universitas Gajah Mada.[5] Kelihatannya belum mendapat perhatian hingga sekarang belum ada Fakultas tersebut.



Mengapa tertarik dengan materi ini , karena mengajak orang untuk menjahui penyakit dan penderitaan yang akan ditimbulkannya, sesuai dengan nahi munkar. Dan tugas ini bagian dari kegiatan dakwah yang mengajak kepada ma. ruf dan menjahui yang munkar,
Proses penemuan judul cukup panjang tertarik mengemukakan judul ini yang juga merupakan sumbangan pemikiran ketua prodi Pendidikan Umum Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Dimana awalnya adalah pemahamam da’i tentang patologi sosial. Melalui Gerakan Dakwah sebagai salah satu jalur kegiatan Kodi.



Koordinasi Dakwah Islam Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta sebagai tempat lokasi Penelitian. Pemilihan lokasi ini karena Jakarta sebagai jendela Indonesia. Koordinasi Dakwah Islam Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta yang juga melaksanakan Pendidikan Kader Mubaligh. Yang mewakili 48 organisasi Islam merupakan salah satu pilar membangun masyarakat.[6] Diharapkan mampu melakukan gerakan dakwah yang bersifat mencegah dan menyembuhkan . Dakwah bukan saja memberikan wawasan keislaman yang lebih luas ( yang bersifat kognitif ). Karena dakwah membangun pranata masyarakat yang tetap kokoh dalam pijakan beragama menjadi tantangan sekaligus tujuan dalam berdakwah .



Disamping dakwah dapat melupakan persoalan dan meredakan tekanan psikologis, namun lebih jauh dakwah juga harus membantu orang-orang modern dalam memahami dirinya. Seperti yang dikemukakan Max Weber dengan hidup mencari makna, dimasa milliux paradigma ilmu tetap mendominasi tetapi untuk apa dan mau kemana menjadi tidak jelas. Dalam buku Social Pathology Perspective Comparative “What to do How to life”




B. MASALAH DAN PERUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana Model pencegahan dan penyembuhan patologi sosial berbasis nilai yang dilaksanakan di Koordinasi dakwah islam Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.

2. Apakah model pencegahan dan penyembuhan patologi sosial berbasis nilai difahami oleh pelaku dakwah ( da’i ) dan penerima dakwah atau mad’u.



Bagaimana pelaksanaan patologi sosial waktu berdakwah, melihat di Kodi sebagai tempat pendidikan kader mubaligh. Dengan belajar kita dapat mengetahuinya dengan mencari tahu dapat mencoba mempredeksi kedepan. Sekiranya pemahaman tentang penyakit masyarakat tidak kita kaji ulang dapat menimbulkan masalah baru yang lebih rumit lagi, dan akan semakin kehilangan kesempatan untuk mengatasinya serta kehilangan akar masalah. Oleh sebab itu dari yang dikemukakan diatas perlu Rekayasa sosial dengan Perubahan sosial yang terencana (Planned sosial change) agar berdakwah sebagai (agent of social change) yang strategis ini dapat dimanfa’atkan, membantu memperkecil penyebaran penyakit masyarakat, kemudian ada tahapan didalam proses pelaksanaan hingga hasil berdakwah dapat di evaluasi.



1. Metodelogi Penelitian


Metode adalah cara kerja desertasi ini setelah memasuki lapangan agar pembahasannya dapat lebih terarah, maka peneliti memilih pendekatan kualitatif. Dengan di dasari beberapa alasan seperti yang di kaji adalah makna suatu tindakan apa yang berada dibalik tindakan seseorang. Di tambah Menurut W. Lawren Newman metode peneltian sosial mengemukakan teori interpretatif yaitu “apa hubungan pengalaman dengan kenyataan” pendekatan interpretatif, adalah seluruh analisa sistem tingkah laku sosial, sikap,perbuatan, melalui observasi tentang masyarakat pada sa’at itu, agar tercapai suatu pemahaman atau interpretasi bagaimana masyarakat bisa menciptakan, mengolah dan memelihara dunia sosialnya.




Bagaimana masyarakat bisa menciptakan mengolah dan memelihara dunia sosialnya hal ini memerlukan “kesadaran bersama” sesuai dengan fungsinya dan porsi masing-masing. Belajar mencoba mencari makna dari seluruh sistem tingkah laku sosial yang di sebut “model” apabila benar didalam menemukan makna suatu kebaikkan. Apabila salah bernilai juga sudah berusaha menemukan.




Penelitian kualitatiif pada hakekatnya ialah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya.berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami tafsiran mereka tentang dunia sekitarnnya. Model yang di kemukakan dapat di Transfer kepada kondisi yang bersamaan. Kemudian di dalam menghadapi lingkungan sosial individu memiliki strategi bertindak yang tepat bagi dirinya sendiri, sehingga memerlukan pengkajian yang mendalam. Penelitian kualitatif memberikan peluang bagi pengkajian mendalam terhadap suatu fenomena Selanjutnya Penelitian tentang keyakinan, kesadaran, dan tindakan individu di masyarakat sangat memungkinkan menggunakan penelitian kualitatif, karena yang dikaji ialah fenomena yang tidak bersifat eksternal dan berada di dalam diri masing-masing individu.




Selanjutnya penelitian kualitatif memberikan peluang untuk meneliti fenomena secara holistik. Fenomena yang dikaji merupakan satu kesattuan yang tak terpisahkan. karena tindakan yang terjadi dikalangan masyarakat bukanlah tindakan yang diakibatkan oleh satu dua faktor akan tetapi melibatkan sekian banyak faktor yang saling terkait. Penelitian kualitatif memberikan peluang untuk memahami fenomena menurut emicview atau pandangan aktor setempat.




2. Penelitian Pendahuluan, Memasuki lapangan.


Penelitian ini adalah penelitian lanjutan tentang “urgensi Pemahaman Da’i Tentang patologi Sosial” untuk mendapat gelar magister di sekolah pascasarjana bidang dirasat islamiah institut agama islam negeri sunan ampel surabaya. kemudian penelitian pemahaman da’i tentang patologi sosial di Kodi DKI Jakarta. Sebagai penelitian proposal yang di biayai Fakultas dakwah dan komunikasi. Untuk persiapan desertasi yang didalam perjalanannya menjadi mencari model pencegahan dan penyembuhan patologi sosial berbasis nilai.




Penelitian ini mencari tahu bagaimana model pelaksana menegakkan “amar ma’ruf nahi munkar di kodi” Apakah da’i ( pelaku dakwah) faham dan mad’u (penerima dakwah) dengan modelnya mengerti dan mengetahui model ini, dapatkah model ini di transfer keberbagai ragam penyakit dalam kondisi yang sama. Apakah model ini dapat digunakan para lulusan Pendidikan Kader Mubaligh dari Koordinasi Dakwah Islam DKI Jakarta.




Penelitian kualitatif pada hakekatnya ialah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya. Apakah teori yang dikemukakan dapat di “transfer” kepada kondisi yang bersamaan. Teori atau disebut juga model dikemukakan Sugiyono ialah:
“Teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antara variable, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena”.
Selanjutnya Sitirahayu Haditono ( 1999 ) menyatakan bahwa suatu teori akan memperoleh arti yang penting, bila ia lebih banyak dapat melukiskan, menerangkan, dan meramalkan gejala yang ada.




Menurut Stephen W. Little John dalam Teori of Human communication yang diartikan dengan teori–teori mengidentifikasikan pola-pola dari peristiwa-peristiwa dilingkungan sehingga kita tahu apa yang kita harapkan. Kemudian teori-teori menarik perhatian kita kepada aspek-aspek penting dari kehidupan sehari-hari, Dengan teori-teori mendorong kita memutuskan apa yang penting dan apa yang tidak. Dan dengan teori pula memungkinkan memprediksi apa yang akan terjadi kemudian.
Karakteristik Penelitian Kualitatif yaitu Penelitian sistem tingkah laku. Dalam penelitian Patologi Sosial awal menggunakan unit analisis individu, sedangkan perspektif patologi sosial modern menggunakan pendekatan sistem.


a. Desain


Desain bersifat, umum, fleksibel, berkembang dan muncul dalam proses penelitian


b. Tujuan


Tujuan adalah menemukan pola hubungan yang bersifat interaktif, menggambarkan realitas yang kompleks, memperoleh pemahaman makna dan menemukan teori, atau model.


c. Tehnik Penelitian


Tehnik Penelitian turun kelapangan memasuki lapangan, memilah dan memilih di lapangan dan menetapkan pilihan. Di samping itu bersifat tinjauan kepustakaan,observasi, wawancara. dokumentasi, tringulasi.


d. Instrumen Penelitian


Instrumen Penelitiannya yakni peneliti sebagai instrument (human instrumen). buku catatan, tape recorder, camera, handy camp dan lain-lain. Data bersifat deskriptif, dokumen pribadi, catatan lapangan, ucapan tindakan, responden, dokumen dan lain-lain.
Sampel/sumber data, adalah kecil, tidak representative, purposive, snowball, berkembang selama proses penelitian.



Analisis bersifat terus menerus, sejak awal sampai akhir penelitian, induktif, mencari pola, model, thema, teori.


Usulan desain, adalah singkat, literature yang digunakan bersifat sementara, tidak menjadi pegangan utama, prosudure bersifat umum seperti akan tour/piknik, masalah bersifat sementara dan akan ditemukan setelah studi pendahuluan, tidak dirumuskan hipotesis, karena justru akan menemukan hipotesis, focus penelitian ditetapkan setelah diperoleh data awal dari lapangan.


Kapan penelitian dianggap selesai adalah setelah tidak ada data yang dianggap baru/ jenuh. Kepercayaan dalam hasil penelitian, berupa pengujian kredibilitas, depenabilitas, proses dan hasil penelitian





3. Alasan Menggunakan Pendekatan Kualitatif


Dalam hal ini perlu dikemukakan, mengapa pendekatan kualitatif yang digunakan didasari beberapa alasan memahami situasi sosial secara mendalam, mengembangkan dan menemukan teori. Disamping itu arah dan fungsi penelitian kualitatif berobyek yaitu temuan” Model Pencegahan dan Penyembuhan Patologi Sosial Berbasis Nilai “ di Kodi DKI Jakarta.. yang unsur-unsurnya dianalisa. Kemudian dicari faktor pendukung dan penghambatnya” Setelah itu apakah da’i dan da’iyah , mengerti dan faham akan temuan tersebut. Selanjutnya apakah dia mengerti bahwa temuan itu dapat di “ Trasfer “ ke kondisi penyakit yang bersamaan.






[1]Jalaludin Rahmat, Islam Aktual, Refleksi Sosial Masyarakat, Cendikiawan Muslim (Bandung: Penerbit.. cet ke XIII ) hal 65 -70.


[2]Jalaludin Rahmad, Islam Aktual (Bandung: Mizan, cet ke VI th 2004 ), hal 75.


[3]Di Akses tanggal 25 November 2008 Tempo interaktif. Com/ hg /it/ Anton Tabah. ( Komisaris Polisi) staf khusus yang memberi materi pada sa’at itu tentang penyakit-penyakit masyarakat yang mengemukakan bahwa para pelakunya semakin berani dan terang-terangan , Sehingga munulnya berbagai penyakit yang sangat rentan dan sulit untuk diberantas.


[4]Kartini Kartono,Patologi Sosial,(Jakarta,PT. Raja Grafindo Persada)


[5] S.Imam Asyari, Patologi Sosial ( Surabaya, Penerbit Usaha Nasional cet ke 1 ), hal 18.


[6]M.Djauhari Sekretaris KODI Islamic Center . Wawancara tanggal 11 Oktober 2005.

0 komentar:

Poskan Komentar